Terik matahari menyongsong pagi yang cerah. Tak peduli seberapa kerontangnya tanah retak itu, Butet si anak kampung tetap berjalan tanpa lelah pergi ke sekolah. Sawah-sawah menjadi teman setia Butet dikala berangkat maupun pulang sekolah. Tak banyak teman-teman yang menemaninya karna sejatinya, mereka lebih memilih membantu orang tua dari pada sekolah. "Butet, lamo lagi kau ke sekolah, naek lah samo Uwo." sahut Rita perempuan 40 tahunan itu yang mengajak Butet naik ke odong-odongnya. Dia tak tega melihat anak perempuan seperti Butet itu menempuh jarak 8 km ke sekolahnya. Peluh telah membasahi punggung kurus butet ." Mak uwo nak kemano? kito dak searah, wo! biaklah kami jalan be. bentar lagi sampe." Butet menolak, tak enak dengan Rita karna memang tujuan mereka tak sama. "Eh, sudahlah naek! Nanti kau telat, 3 kilo lagi ke sekolah. sekarang lah jam 06.50" kata Rita mengajak paksa Butet yang terus berjalan. Butet terlihat sangat sungkan dengan Rita, karna setiap hari Rita selalu mengantarnya jika bertemu di jalan.
***
"Mak wo, makasih yo. besok-besok kalo mamak ngasih duit lebih, kami bayar duit bensin Makwo." ucap Butet dengan polosnya saat sedang melirik speedometer di odong-odong Rita.
"alaaah, dahlah. kau belajar be bagus-bagus. dapat rangking, biak biso dapat beasiswa. biso bantu mamak samo abang kau yo. Jangan lupo latian paskib, 17-an sebulan lagi" Ucap Rita seraya menghidupkan kembali odong-odongnya dan pergi dari pandangan Butet. Butet, ya namanya memang khas sekali dengan suku batak, namun sejak lahir ia sudah tinggal lama di kabupaten Batanghari, Jambi. Terlahir sebagai anak bungsu dari 2 bersaudara, ia hidup tanpa ayah. ayahnya terkena stroke sejak 2 tahun yang lalu dan hanya terbaring di rumah. Bahkan, abangnya putus sekolah untuk bisa membantu Ibunya mencari makan keluarganya.
***
"Tet, cepat kau datang. tumben?!" Siska terkejut melihat butet sudah duduk dibangkunya.
"iyo, tadi aku ditebengin dengan Mak wo."
"loh, sering nian makwo ngantar kau. Dio kan kerjo di SMA 6 dak? mutar jauh lah Makwo."
"iyo, tadi aku lah bilang nak bejalan bae. Makwo bilang gek telat. sudahlah aku naek bae." gemetar suara dari mulut Butet karna ia masih tak enak dengan Rita. "besok aku berangkat agak pagi lah lagi, biak dak telat." lanjut Butet
bel sekolah pun berbunyi. tanda pelajaran pertama akan diisi oleh Pak Ranto. guru Fisika yang sangat ditunggu para siswa, begitupun Butet.
"Assalamu'alaikum."
"wa'alaikumsalam".
" Selamat pagi, semua. Hari ini kita akan praktek mengenai rangkaian listrik seri dan paralel. sudah bawa kabel dan baterai 3 Volt 4 buah?" tanya Pak Ranto.
seisi kelas mulai ricuh, karna ada beberapa siswa yang salah membawa baterai
"Pak, kami cuma bawa yang 1,5 V. biso dipake dak,Pak?" tanya Dodi
"Pak, kami lupo bawa kabel!" teriak anak disudut belakang kelas.
Pak Ranto pun sigap untuk menenangkan anak-anak. "yaudah yang gk bawa, gak apa. kan ada 3 kelompok, nanti kita prakteknya...." omongan Pak Ranto seketika dipotong oleh seseorang yg asedang mengucapkan salam.
"Assalamu'alaikum,Pak." ucap Bu Sonia selaku guru Matematika
"Wa'alaikumsalam." tegas Pak Ranto
"Pak, ada pengawas dari dinas. Mau nengok kelas kito. Tapi, sayo ni dak bawak RPP, anak-anak pada ribut jugo. Bapak ajak be Bapak (pengawas) tu ke lokal bapak yo." bisik Bu Sonia
"Lah, sayo ni bukan dak mau,bu. Hari ni sayo ado praktek, anak ni banyak dak bawak alat. sayo bawalah RPP samo Silabus, tapi kagek ditengoknyo alat nyo kurang kek mano?!" keluh Pak Ranto menolak ajakan Bu Sonia.
"apo yang kurang? biak sayo belikan sekarang. rumah sayo tu jauh pak. Nak ngambek(RPP) lagi dak tekejar." Bu Sonia meminta dengan sangat pada Pak Ranto.
"Eee, youdahlah,bu." Ketus Pak Ranto
***
Bu Sonia segera membeli baterai dan selotip yang dibutuhkan Pak Ranto.
"Pak, nih!" sodor Bu Sonia.
"Yo,makasih bu." Tadi sayo sudah ketemu pengawas, bentar lagi kesini."
"makasih banyak yo pak" ucap Bu Sonia seraya berpamitan
"Nah, sekarang kelompok Dodi samo Butet pisah, biak lebih mudah ngerti." tegas Pak Ranto.
saat siswa sedang membagi kelompok, sang pengawas pun masuk kedalam kelas dan terkejut melihat sosok yang ia kenal.
"BUTET!" Kau anak Tarigan kan? Tukang nyolong itu kan?!" teriak Pengawas itu pada butet terkejut dan tidak tahu apa yang sedang dibicarakan.
"maksud, Bapak?" sambung Pak Ranto
"iya, dia ini anak tukang korupsi. Bapaknya dulu pernah maling duit perusahaan sawit di Bungo. sampe 1 M, sekarang kena batu bapak dio kan, stroke dak sembuh-sembuh" sinis si pengawas pada butet yang terlihat hampir menangis.
Seluruh kelas mulai ricuh dan menjauh dari Butet. Butet yang merasa dihindari mulai menangis. bukan tanpa alasan, dia menangis karna tak tahu apa benar yang dikatakan pengawas itu tentang ayahnya.
***
Mengingat hari telah menjelang sore, bel pulang sekolah berbunyi
selama pembelajaran Butet selalu dilihat oleh teman-temannya yang termakan omongan si pengawas. Bahkan, saat ia sedang latihan baris berbaris, seluruh temannya tak ada yang mau berbaris dengan Butet. Butet dipaksa untuk berjalan sendiri dan latihan sendiri. Butet akhirnya menunduk dan tak berani menatap semua mata yang melihatnya. Pak Ranto yang masih di sekolah dan melihat Butet tertekan segera memotivasi Butet untuk tidak mempercayai omongan orang lain yang belum tentu benar.
"Nanti, kamu tanya sama mamak baik-baik, bener gak ayahmu begitu? Jangan sedih, Bapak yakin ayahmu orang baik." motivasi yang diberikan Pak Ranto sedikit membuat hati Butet tenang dan Ia pun segera pamit pulang ke rumah.
***
Dirumah
"Salamu'alaikum,mak. maaakkk..,, maaaaaak" tangis butet pecah saat mencari-cari Ibunya di setiap sudut rumah. Ibunya yang sedang memasak diluar rumah, tiba-tiba menyudahi meniup arang dan berlari kearah Butet.
"Ngapo kau tet? ngapo kau nangis?"tanya sang Ibu yang telah dipeluk butet
"tadi.... a-a-ado orang di (tarik ingus) di sekolah, bilang Ayah pernah korupsi di perusahaan sawit di Bungo. Kawan" lah pado nengok butet mak, orang tu percayo kalo Ayah korupsi.!" kata Butet dengan sesenggukan menjelaskan perkara yang ia hadapi di sekolah
"Astaghfirullahaladzim, siapo yang fitnah Ayah kau kek itu. Ya allah. kasian ayah kau ni lagi sakit, difitnah lagi. ayah kau tu dulu yang ngurus korupsi di perusahaan tu, dio (ayah) yang bantuin nyari pengacara, nyari saksi, nyari bukti, sampe tau siapo yang main duit. ruponyo asisten Bos tu lah yang korupsi. Ya Allah" keluh Ibu Butet yang sudah tak tahan dengan cobaan yang menimpa keluarganya. Ia hanya bisa menangis dan memeluk Butet. Saat itu, Ibu Butet juga menceritakan segala hal tentang ayahnya yang kala itu masih sehat. Didengarnya dengan seksama dan akan dijelaskannya pada teman"nya esok hari. Butet pun memeluk erat tubuh Ibunya yang ia rasa telah letih dan tinggal berbalut tulang.
***
Keesokan harinya Di sekolah
"anak tukang korupsi! anak tukang korupsi! masih berani kau sekolah haa?!" teriak Siska pada Butet
"ayah aku bukan koruptor,, orang tu fitnah tau dak?" timpal Butet kesal
"kayaknyo orang kyk kau ni, emng banyak yang korupsi. kau jugo bukan orang Jambi,, balek sano ke kampung kau!!" Triana mendorong dan menendang-nendang butet. Pak Ranto yang melihat segera membubarkan kerumunan tersebut.
"he, kalian ngapain?" Pak Ranto terkejut saat Butet dikerubungi pasir di tubuhnya
"Ya Allah, ke kantor kalian sekarang. Triana, Siska, Upik. cepat ke kantor. kalo gak nanti Bapak panggil orang tua kalian ke sekolah." teriakan Pak Ranto membuat siswa yang lain terkejut.
berita yang di sampaikan oleh pengawas bernama Agus Januar tidak diterima mentah-mentah oleh Pak Ranto. Pasalnya, Pak Ranto merupakan teman sekelas Bapak Butet sewaktu sekolah menengah, bahkan mereka berdua pernah menjadi sahabat karib dan pernah menjadi pasukan 8 pengibaran bendera tahun 1997 mewakili provinsi di Istana . tentunya, Ia tau tabiat sahabat karibnya itu. Butet yang memiliki postur tinggi dan tegap seperti ayahnya dan pernah mengibarkan sang saka merah putih di sekolahnya terus berlatih untuk bisa mengibarkan bendera di provinsi Jambi.
***
"sekarang, kamu fokus sama Paskib dulu, kalau bisa tembus ke provinsi, orang-orang pasti segan dengan kamu. nanti masalah ayahmu ini, bapak bantu cari bukti. Bapak yakin ayahmu dak salah!" tegas Pak Ranto seraya membantu butet untuk berdiri.
Sejak hari itu, butet terus di bully dan di hina. Bahkan, saat latihan Paskibraka di sekolah, dia sengaja diberi hukuman push up dan berlari lebih lama dari teman yang lain oleh kakak kelas. Tak ada teman yang menemaninya, karna tak ada satu temannya di sekitar rumah yang satu sekolah dengan Butet.
***
Rumor itu menjatuhkan mimpi Butet untuk maju ke tingkat provinsi, apalagi sejak pembina mengetahui rumor yang beredar.
"Tet, sini dulu." panggil Pak Sandy (pembina paskibraka)
"iya,pak?" tanya Butet yang baru saja selesai istirahat
"Bapak lah dengar, masalah keluargamu..."
"dak benar itu,pak. Ayah kami dak pernah korupsi, Ayah kami yang bantu perusahaan tu nemuin koruptornyo.!" Butet langsung menangis ketika Pak Sandy menyinggung persoalan ayahnya.
"iya, Bapak ngerti. tapi,bukan itu maksudnya. sekarang udah tinggal 25 hari lagi, lusa calon pasukan udah harus latihan di Kota. kau masuk, tapi karna rumor ini, banyak kawan lain yang protes. bahkan, orang tuonyo banyak komplain kalo kamu nanti mewakili merangin biso malu, karna status ayahmu, meskipun belum benar." kata Pak sandy pelan kepada Butet.
Butet yang memiliki pemikiran dewasa pun bingung menghadapi persoalan ini, di satu sisi, dia memang benar-benar ingin sekali masuk mewakili sekolah pada pengibaran bendera, karna setiap tahun hanya ada 1 perwakilan dari sekolahnya, dan dia sudah duduk di kelas 2. tak ada lagi kesempatan, jika tak sekarang. di sisi lain, ia tak tega jika nama sekolahnya tercoreng meskipun memang belum terbukti benar bahwa ayahnya seorang koruptor.
Butet meminta waktu hingga besok kepada Pak Sandy untuk memikirkan mana yang terbaik bagi dirinya.
***
Jam istirahat, di ruang guru
"Pak, saya tetap akan mewakili sekolah untuk perwakilan paskib 17-an." Kata Butet didepan para guru yang sudah sinis melihatnya
"Kemarin, Bapak juga udah bicara sama Pak Kepsek, Bapak minta ganti orang. Bapak takut sekolah kita tercoreng namanya."
"loh kan sudah saya bilang tunggu, pak. Gak bisa gitu,pak. Kami yang dipilih, kami yang harus pergi. kami biso bertanggung jawab kalo memang namo sekolah ni bermasalah nanti. Mimpi kami, kami biso ngibarin bendera di Gubernuran lah dari dulu,Pak. sebelum ado masalah ni. Kami dak mau nyia"in kesempatan. Kami lah kelas duo, tahun depan dak biso lagi kami ikut. 73 tahun pak, Indonesia merdeka. Jangan karna permasalahan yang belum tentu benar, Bapak biso ngambil mimpi kami ngibarin bendera di gubernuran. Kami buktiin ke semua orang, kalo Bapak kami jugo dak salah." ucap Butet sedikit tergesa-gesa. karna kekesalannya pada Pak Sandy. Namun, keputusan sudah bulat Pak Sandy tetap tidak bisa menolak perintah Pak Kepsek.
***
Butet tak bisa berkata-kata lagi. Ia ingin menemui Pak Kepsek, namun Bapak sedang di Kerinci. Ia terlihat lesu dan usahanya kini sia-sia. Ia berjalan keluar dari ruangan tanpa berkata-kata. Ia pun pergi ke belakang sekolah. Dia duduk beralaskan rerumputan, dibawah pohon yang rindang, menangis sesenggukkan. meskipun begitu, ia tak pernah menyalahkan siapapun. Ia terus bersemangat meskipun air mata telah jatuh membasahi pipinya. dia percaya ini hanyalah cobaan kecil dari Tuhan. Dan semangatnya untuk mengibarkan bendera tidak akan pernah padam.
***
"Makanya, kalo sudah tau Bapak nyo koruptor jangan sok kepedean. Jangan nak sok tampil ngibarin bendera di gubernur. dak sudi orang nengok kau. mending kau tutupin tu skandal Bapak kau. kalo perlu pindah dari sekolah ni. buat malu be." Siska yang bener-bener membenci Butet semenjak rumor mencuat, terus menghina dan mencaci butet dengan kata kasarnya.
"Aku selalu percayo, kalo ayah aku dak bersalah. Yang menyampaikan pun ngomong dak jelas. Semua bakal tibo pado waktunyo. Cahaya akan selalu tampak meski awan hitam terus berusaha menutupinyo. soal aku yang dak jadi perwakilan, aku dak masalah. kalo pun bukan aku, Bendera akan tetap berdiri tegak dengan gagah oleh orang-orang yang terpilih. setiap orang punyo masanyo sendiri dalam meraih mimpinyo. mungkin, sekarang bukan rejeki aku. Setidaknyo, aku terus melangkah maju dan terus berusaha menjadi pribadi yang lebih baik lagi." kata-kata Butet seolah-olah menghipnotis seluruh kelas. Bahkan, siska pun segera berlalu dari hadapan Butet.
Butet terlihat ikhlas, meski baru saja Ia menerima kenyataan tentang mimpinya yang sudah pupus.
5 hari lagi, Indonesia kembali merdeka. Sebelumnya, tersiar kabar bahwa koruptor yang disangka sebagai Bapak Butet telah ditahan dari 2 tahun yang lalu di LP Kota Jambi. Seorang siswa kelas 10 tak sengaja membuka berita di youtube tentang korupsi 2 tahun yang lalu di perusahaan pabrik sawit di Bungo. Nama yang tertera bukan nama bapak Butet, melainkan Asisten Bos Perusahaan Pabrik Sawit 'Aji Buncit'. Berita ini, langsung tersebar ke penjuru sekolah dan seketika semua orang merasa tak enak dengan Butet. Butet yang tak tahu, seketika di datangi oleh Pak Ranto
"Tet, Kamu gak salah. Nih, liat." pak Ranto menyodorkan hp kepada Butet dan Butet tersenyum haru bahkan menitikkan air mata melihat berita tersebut.
"Bapak minta maaf ya,tet. Kalo aja kemaren Bapak kepikiran nyari di youtube mungkin kamu sudah bisa ngibarin bendera di Provinsi." sesal Pak Ranto namun tetap tak bisa mengubah kenyataan yang sudah terjadi.
"dak apo,Pak. setidaknyo masalah selesai, Bapak kami dak difitnah lagi dan meskipun kami dak ngewakili di provinsi, kami bakal tetap ngibarin bendera di sekolah." ucap Butet yang benar-benar sudah mengikhlaskan kejadian yang ia anggap sebagai hadiah dari Tuhan untuk bisa bersikap lebih dewasa.
Tak hanya Pak Ranto, Pak Sandy bahkan teman-temannya yang pernah menghina dan mencaci Butet sudah Ia maafkan. bahkan sebelum mereka memintanya.
***
"17 agustus telah tiba, hari dimana Negara Republik Indonesia memproklamirkan kemerdekaan Bangsanya dari penjajah yang telah lama merebut kekayaan alam di Indonesia, mengambil dan merampas hak kita dengan paksa. Saatnya kita bangkit, dan tunjukkan kepada dunia. Bahwa selama 73 tahun Indonesia sudah berubah, telah merdeka, makin bermartabat, dan disegani dunia. saatnya kita meneruskan perjuangan pahlawan-pahlawan kita, yang telah rela mengorbankan jiwa, raga dan harta mereka untuk kebangkitan bangsa Indonesia. Merdeka! Merdeka! Merdeka! Meski tak semeriah kota-kota besar, disini ada satu contoh dari pengibar bendera kita, pembawa sang saka merah putih untuk dikibarkan setinggi-tingginya. Ia telah ikhlas mengorbankan mimpinya untuk mengibarkan bendera di Pelataran Gubernur Kota Jambi, karna rumor yang beredar saat itu. Dia sangat dewasa menyikapi permasalahan, tidak mendendam, bahkan telah memaafkan yang telah menghinanya dan mencaci maki keluarganya. Inilah sikap dari seorang pemimpin yang patut dicontoh. ada 3 sikap yang bisa kita teladani dari Pembawa bendera kita, ananda Butet Uli Tarigan bahwa kita tidak boleh menerima informasi tanpa menyertai bukti! yang kedua kita harus senantiasa memaafkan orang lain, dan yang ke3 kita harus selalu saling berpikiran untuk maju. meski kita pernah salah, ayo kita perbaiki. meski kita berbeda, ayo kita satukan perbedaan menjadi sebuah harmoni, menjadi sebuah partitur lagu yang kompleks dan indah untuk didengar. Indonesiaku, Indonesiamu, Indonesia Kita, Jayalah Indonesia. Sekian dari saya dan beri tepuk tangan untuk Butet Uli Tarigan"
semua orang bertepuk tangan dengan sangat kencang dan mendukung Butet yang terlihat menangis tegap di depan tiang bendera.
Haripun berlalu, Butet kini kembali bergaul bersama teman-temannya di kelas. Tak hanya itu, setahun kemudian dia akhirnya masuk menjadi anggota Polisi Wanita di Jambi dan akan bertugas mengabdi pada negara sepanjang hayatnya sesuai dengan mimpinya untuk mengibarkan bendera setiap tanggal 17 agustus.
***
***
"Mak wo, makasih yo. besok-besok kalo mamak ngasih duit lebih, kami bayar duit bensin Makwo." ucap Butet dengan polosnya saat sedang melirik speedometer di odong-odong Rita.
"alaaah, dahlah. kau belajar be bagus-bagus. dapat rangking, biak biso dapat beasiswa. biso bantu mamak samo abang kau yo. Jangan lupo latian paskib, 17-an sebulan lagi" Ucap Rita seraya menghidupkan kembali odong-odongnya dan pergi dari pandangan Butet. Butet, ya namanya memang khas sekali dengan suku batak, namun sejak lahir ia sudah tinggal lama di kabupaten Batanghari, Jambi. Terlahir sebagai anak bungsu dari 2 bersaudara, ia hidup tanpa ayah. ayahnya terkena stroke sejak 2 tahun yang lalu dan hanya terbaring di rumah. Bahkan, abangnya putus sekolah untuk bisa membantu Ibunya mencari makan keluarganya.
***
"Tet, cepat kau datang. tumben?!" Siska terkejut melihat butet sudah duduk dibangkunya.
"iyo, tadi aku ditebengin dengan Mak wo."
"loh, sering nian makwo ngantar kau. Dio kan kerjo di SMA 6 dak? mutar jauh lah Makwo."
"iyo, tadi aku lah bilang nak bejalan bae. Makwo bilang gek telat. sudahlah aku naek bae." gemetar suara dari mulut Butet karna ia masih tak enak dengan Rita. "besok aku berangkat agak pagi lah lagi, biak dak telat." lanjut Butet
bel sekolah pun berbunyi. tanda pelajaran pertama akan diisi oleh Pak Ranto. guru Fisika yang sangat ditunggu para siswa, begitupun Butet.
"Assalamu'alaikum."
"wa'alaikumsalam".
" Selamat pagi, semua. Hari ini kita akan praktek mengenai rangkaian listrik seri dan paralel. sudah bawa kabel dan baterai 3 Volt 4 buah?" tanya Pak Ranto.
seisi kelas mulai ricuh, karna ada beberapa siswa yang salah membawa baterai
"Pak, kami cuma bawa yang 1,5 V. biso dipake dak,Pak?" tanya Dodi
"Pak, kami lupo bawa kabel!" teriak anak disudut belakang kelas.
Pak Ranto pun sigap untuk menenangkan anak-anak. "yaudah yang gk bawa, gak apa. kan ada 3 kelompok, nanti kita prakteknya...." omongan Pak Ranto seketika dipotong oleh seseorang yg asedang mengucapkan salam.
"Assalamu'alaikum,Pak." ucap Bu Sonia selaku guru Matematika
"Wa'alaikumsalam." tegas Pak Ranto
"Pak, ada pengawas dari dinas. Mau nengok kelas kito. Tapi, sayo ni dak bawak RPP, anak-anak pada ribut jugo. Bapak ajak be Bapak (pengawas) tu ke lokal bapak yo." bisik Bu Sonia
"Lah, sayo ni bukan dak mau,bu. Hari ni sayo ado praktek, anak ni banyak dak bawak alat. sayo bawalah RPP samo Silabus, tapi kagek ditengoknyo alat nyo kurang kek mano?!" keluh Pak Ranto menolak ajakan Bu Sonia.
"apo yang kurang? biak sayo belikan sekarang. rumah sayo tu jauh pak. Nak ngambek(RPP) lagi dak tekejar." Bu Sonia meminta dengan sangat pada Pak Ranto.
"Eee, youdahlah,bu." Ketus Pak Ranto
***
Bu Sonia segera membeli baterai dan selotip yang dibutuhkan Pak Ranto.
"Pak, nih!" sodor Bu Sonia.
"Yo,makasih bu." Tadi sayo sudah ketemu pengawas, bentar lagi kesini."
"makasih banyak yo pak" ucap Bu Sonia seraya berpamitan
"Nah, sekarang kelompok Dodi samo Butet pisah, biak lebih mudah ngerti." tegas Pak Ranto.
saat siswa sedang membagi kelompok, sang pengawas pun masuk kedalam kelas dan terkejut melihat sosok yang ia kenal.
"BUTET!" Kau anak Tarigan kan? Tukang nyolong itu kan?!" teriak Pengawas itu pada butet terkejut dan tidak tahu apa yang sedang dibicarakan.
"maksud, Bapak?" sambung Pak Ranto
"iya, dia ini anak tukang korupsi. Bapaknya dulu pernah maling duit perusahaan sawit di Bungo. sampe 1 M, sekarang kena batu bapak dio kan, stroke dak sembuh-sembuh" sinis si pengawas pada butet yang terlihat hampir menangis.
Seluruh kelas mulai ricuh dan menjauh dari Butet. Butet yang merasa dihindari mulai menangis. bukan tanpa alasan, dia menangis karna tak tahu apa benar yang dikatakan pengawas itu tentang ayahnya.
***
Mengingat hari telah menjelang sore, bel pulang sekolah berbunyi
selama pembelajaran Butet selalu dilihat oleh teman-temannya yang termakan omongan si pengawas. Bahkan, saat ia sedang latihan baris berbaris, seluruh temannya tak ada yang mau berbaris dengan Butet. Butet dipaksa untuk berjalan sendiri dan latihan sendiri. Butet akhirnya menunduk dan tak berani menatap semua mata yang melihatnya. Pak Ranto yang masih di sekolah dan melihat Butet tertekan segera memotivasi Butet untuk tidak mempercayai omongan orang lain yang belum tentu benar.
"Nanti, kamu tanya sama mamak baik-baik, bener gak ayahmu begitu? Jangan sedih, Bapak yakin ayahmu orang baik." motivasi yang diberikan Pak Ranto sedikit membuat hati Butet tenang dan Ia pun segera pamit pulang ke rumah.
***
Dirumah
"Salamu'alaikum,mak. maaakkk..,, maaaaaak" tangis butet pecah saat mencari-cari Ibunya di setiap sudut rumah. Ibunya yang sedang memasak diluar rumah, tiba-tiba menyudahi meniup arang dan berlari kearah Butet.
"Ngapo kau tet? ngapo kau nangis?"tanya sang Ibu yang telah dipeluk butet
"tadi.... a-a-ado orang di (tarik ingus) di sekolah, bilang Ayah pernah korupsi di perusahaan sawit di Bungo. Kawan" lah pado nengok butet mak, orang tu percayo kalo Ayah korupsi.!" kata Butet dengan sesenggukan menjelaskan perkara yang ia hadapi di sekolah
"Astaghfirullahaladzim, siapo yang fitnah Ayah kau kek itu. Ya allah. kasian ayah kau ni lagi sakit, difitnah lagi. ayah kau tu dulu yang ngurus korupsi di perusahaan tu, dio (ayah) yang bantuin nyari pengacara, nyari saksi, nyari bukti, sampe tau siapo yang main duit. ruponyo asisten Bos tu lah yang korupsi. Ya Allah" keluh Ibu Butet yang sudah tak tahan dengan cobaan yang menimpa keluarganya. Ia hanya bisa menangis dan memeluk Butet. Saat itu, Ibu Butet juga menceritakan segala hal tentang ayahnya yang kala itu masih sehat. Didengarnya dengan seksama dan akan dijelaskannya pada teman"nya esok hari. Butet pun memeluk erat tubuh Ibunya yang ia rasa telah letih dan tinggal berbalut tulang.
***
Keesokan harinya Di sekolah
"anak tukang korupsi! anak tukang korupsi! masih berani kau sekolah haa?!" teriak Siska pada Butet
"ayah aku bukan koruptor,, orang tu fitnah tau dak?" timpal Butet kesal
"kayaknyo orang kyk kau ni, emng banyak yang korupsi. kau jugo bukan orang Jambi,, balek sano ke kampung kau!!" Triana mendorong dan menendang-nendang butet. Pak Ranto yang melihat segera membubarkan kerumunan tersebut.
"he, kalian ngapain?" Pak Ranto terkejut saat Butet dikerubungi pasir di tubuhnya
"Ya Allah, ke kantor kalian sekarang. Triana, Siska, Upik. cepat ke kantor. kalo gak nanti Bapak panggil orang tua kalian ke sekolah." teriakan Pak Ranto membuat siswa yang lain terkejut.
berita yang di sampaikan oleh pengawas bernama Agus Januar tidak diterima mentah-mentah oleh Pak Ranto. Pasalnya, Pak Ranto merupakan teman sekelas Bapak Butet sewaktu sekolah menengah, bahkan mereka berdua pernah menjadi sahabat karib dan pernah menjadi pasukan 8 pengibaran bendera tahun 1997 mewakili provinsi di Istana . tentunya, Ia tau tabiat sahabat karibnya itu. Butet yang memiliki postur tinggi dan tegap seperti ayahnya dan pernah mengibarkan sang saka merah putih di sekolahnya terus berlatih untuk bisa mengibarkan bendera di provinsi Jambi.
***
"sekarang, kamu fokus sama Paskib dulu, kalau bisa tembus ke provinsi, orang-orang pasti segan dengan kamu. nanti masalah ayahmu ini, bapak bantu cari bukti. Bapak yakin ayahmu dak salah!" tegas Pak Ranto seraya membantu butet untuk berdiri.
Sejak hari itu, butet terus di bully dan di hina. Bahkan, saat latihan Paskibraka di sekolah, dia sengaja diberi hukuman push up dan berlari lebih lama dari teman yang lain oleh kakak kelas. Tak ada teman yang menemaninya, karna tak ada satu temannya di sekitar rumah yang satu sekolah dengan Butet.
***
Rumor itu menjatuhkan mimpi Butet untuk maju ke tingkat provinsi, apalagi sejak pembina mengetahui rumor yang beredar.
"Tet, sini dulu." panggil Pak Sandy (pembina paskibraka)
"iya,pak?" tanya Butet yang baru saja selesai istirahat
"Bapak lah dengar, masalah keluargamu..."
"dak benar itu,pak. Ayah kami dak pernah korupsi, Ayah kami yang bantu perusahaan tu nemuin koruptornyo.!" Butet langsung menangis ketika Pak Sandy menyinggung persoalan ayahnya.
"iya, Bapak ngerti. tapi,bukan itu maksudnya. sekarang udah tinggal 25 hari lagi, lusa calon pasukan udah harus latihan di Kota. kau masuk, tapi karna rumor ini, banyak kawan lain yang protes. bahkan, orang tuonyo banyak komplain kalo kamu nanti mewakili merangin biso malu, karna status ayahmu, meskipun belum benar." kata Pak sandy pelan kepada Butet.
Butet yang memiliki pemikiran dewasa pun bingung menghadapi persoalan ini, di satu sisi, dia memang benar-benar ingin sekali masuk mewakili sekolah pada pengibaran bendera, karna setiap tahun hanya ada 1 perwakilan dari sekolahnya, dan dia sudah duduk di kelas 2. tak ada lagi kesempatan, jika tak sekarang. di sisi lain, ia tak tega jika nama sekolahnya tercoreng meskipun memang belum terbukti benar bahwa ayahnya seorang koruptor.
Butet meminta waktu hingga besok kepada Pak Sandy untuk memikirkan mana yang terbaik bagi dirinya.
***
Jam istirahat, di ruang guru
"Pak, saya tetap akan mewakili sekolah untuk perwakilan paskib 17-an." Kata Butet didepan para guru yang sudah sinis melihatnya
"Kemarin, Bapak juga udah bicara sama Pak Kepsek, Bapak minta ganti orang. Bapak takut sekolah kita tercoreng namanya."
"loh kan sudah saya bilang tunggu, pak. Gak bisa gitu,pak. Kami yang dipilih, kami yang harus pergi. kami biso bertanggung jawab kalo memang namo sekolah ni bermasalah nanti. Mimpi kami, kami biso ngibarin bendera di Gubernuran lah dari dulu,Pak. sebelum ado masalah ni. Kami dak mau nyia"in kesempatan. Kami lah kelas duo, tahun depan dak biso lagi kami ikut. 73 tahun pak, Indonesia merdeka. Jangan karna permasalahan yang belum tentu benar, Bapak biso ngambil mimpi kami ngibarin bendera di gubernuran. Kami buktiin ke semua orang, kalo Bapak kami jugo dak salah." ucap Butet sedikit tergesa-gesa. karna kekesalannya pada Pak Sandy. Namun, keputusan sudah bulat Pak Sandy tetap tidak bisa menolak perintah Pak Kepsek.
***
Butet tak bisa berkata-kata lagi. Ia ingin menemui Pak Kepsek, namun Bapak sedang di Kerinci. Ia terlihat lesu dan usahanya kini sia-sia. Ia berjalan keluar dari ruangan tanpa berkata-kata. Ia pun pergi ke belakang sekolah. Dia duduk beralaskan rerumputan, dibawah pohon yang rindang, menangis sesenggukkan. meskipun begitu, ia tak pernah menyalahkan siapapun. Ia terus bersemangat meskipun air mata telah jatuh membasahi pipinya. dia percaya ini hanyalah cobaan kecil dari Tuhan. Dan semangatnya untuk mengibarkan bendera tidak akan pernah padam.
***
"Makanya, kalo sudah tau Bapak nyo koruptor jangan sok kepedean. Jangan nak sok tampil ngibarin bendera di gubernur. dak sudi orang nengok kau. mending kau tutupin tu skandal Bapak kau. kalo perlu pindah dari sekolah ni. buat malu be." Siska yang bener-bener membenci Butet semenjak rumor mencuat, terus menghina dan mencaci butet dengan kata kasarnya.
"Aku selalu percayo, kalo ayah aku dak bersalah. Yang menyampaikan pun ngomong dak jelas. Semua bakal tibo pado waktunyo. Cahaya akan selalu tampak meski awan hitam terus berusaha menutupinyo. soal aku yang dak jadi perwakilan, aku dak masalah. kalo pun bukan aku, Bendera akan tetap berdiri tegak dengan gagah oleh orang-orang yang terpilih. setiap orang punyo masanyo sendiri dalam meraih mimpinyo. mungkin, sekarang bukan rejeki aku. Setidaknyo, aku terus melangkah maju dan terus berusaha menjadi pribadi yang lebih baik lagi." kata-kata Butet seolah-olah menghipnotis seluruh kelas. Bahkan, siska pun segera berlalu dari hadapan Butet.
Butet terlihat ikhlas, meski baru saja Ia menerima kenyataan tentang mimpinya yang sudah pupus.
5 hari lagi, Indonesia kembali merdeka. Sebelumnya, tersiar kabar bahwa koruptor yang disangka sebagai Bapak Butet telah ditahan dari 2 tahun yang lalu di LP Kota Jambi. Seorang siswa kelas 10 tak sengaja membuka berita di youtube tentang korupsi 2 tahun yang lalu di perusahaan pabrik sawit di Bungo. Nama yang tertera bukan nama bapak Butet, melainkan Asisten Bos Perusahaan Pabrik Sawit 'Aji Buncit'. Berita ini, langsung tersebar ke penjuru sekolah dan seketika semua orang merasa tak enak dengan Butet. Butet yang tak tahu, seketika di datangi oleh Pak Ranto
"Tet, Kamu gak salah. Nih, liat." pak Ranto menyodorkan hp kepada Butet dan Butet tersenyum haru bahkan menitikkan air mata melihat berita tersebut.
"Bapak minta maaf ya,tet. Kalo aja kemaren Bapak kepikiran nyari di youtube mungkin kamu sudah bisa ngibarin bendera di Provinsi." sesal Pak Ranto namun tetap tak bisa mengubah kenyataan yang sudah terjadi.
"dak apo,Pak. setidaknyo masalah selesai, Bapak kami dak difitnah lagi dan meskipun kami dak ngewakili di provinsi, kami bakal tetap ngibarin bendera di sekolah." ucap Butet yang benar-benar sudah mengikhlaskan kejadian yang ia anggap sebagai hadiah dari Tuhan untuk bisa bersikap lebih dewasa.
Tak hanya Pak Ranto, Pak Sandy bahkan teman-temannya yang pernah menghina dan mencaci Butet sudah Ia maafkan. bahkan sebelum mereka memintanya.
***
"17 agustus telah tiba, hari dimana Negara Republik Indonesia memproklamirkan kemerdekaan Bangsanya dari penjajah yang telah lama merebut kekayaan alam di Indonesia, mengambil dan merampas hak kita dengan paksa. Saatnya kita bangkit, dan tunjukkan kepada dunia. Bahwa selama 73 tahun Indonesia sudah berubah, telah merdeka, makin bermartabat, dan disegani dunia. saatnya kita meneruskan perjuangan pahlawan-pahlawan kita, yang telah rela mengorbankan jiwa, raga dan harta mereka untuk kebangkitan bangsa Indonesia. Merdeka! Merdeka! Merdeka! Meski tak semeriah kota-kota besar, disini ada satu contoh dari pengibar bendera kita, pembawa sang saka merah putih untuk dikibarkan setinggi-tingginya. Ia telah ikhlas mengorbankan mimpinya untuk mengibarkan bendera di Pelataran Gubernur Kota Jambi, karna rumor yang beredar saat itu. Dia sangat dewasa menyikapi permasalahan, tidak mendendam, bahkan telah memaafkan yang telah menghinanya dan mencaci maki keluarganya. Inilah sikap dari seorang pemimpin yang patut dicontoh. ada 3 sikap yang bisa kita teladani dari Pembawa bendera kita, ananda Butet Uli Tarigan bahwa kita tidak boleh menerima informasi tanpa menyertai bukti! yang kedua kita harus senantiasa memaafkan orang lain, dan yang ke3 kita harus selalu saling berpikiran untuk maju. meski kita pernah salah, ayo kita perbaiki. meski kita berbeda, ayo kita satukan perbedaan menjadi sebuah harmoni, menjadi sebuah partitur lagu yang kompleks dan indah untuk didengar. Indonesiaku, Indonesiamu, Indonesia Kita, Jayalah Indonesia. Sekian dari saya dan beri tepuk tangan untuk Butet Uli Tarigan"
semua orang bertepuk tangan dengan sangat kencang dan mendukung Butet yang terlihat menangis tegap di depan tiang bendera.
Haripun berlalu, Butet kini kembali bergaul bersama teman-temannya di kelas. Tak hanya itu, setahun kemudian dia akhirnya masuk menjadi anggota Polisi Wanita di Jambi dan akan bertugas mengabdi pada negara sepanjang hayatnya sesuai dengan mimpinya untuk mengibarkan bendera setiap tanggal 17 agustus.
***
Komentar
Posting Komentar